Makan siang di Perahu “Jukung”

Di luar kebiasaan, tiba-tiba saja “my bos” mengajak aku bersama Susi (rekan kerjaku) pergi ke kawasan 16 Ilir Palembang. Sebelum berangkat, “bos-ku” singgah dulu kerumahnya. Rupanya, disana sudah menanti putri bungsu dan istrinya untuk ikut bersama.

Ke kawasan 16 Ilir Palembang, bagi saya sudah terbiasa. Namun, naik Perahu Jukung (perahu panjang yang beratap) merupakan pengalaman pertama. Ternyata, itu bukan perahu biasa, tapi rumah makan terapung. Tidak terlalu istimewa, karena di sana tidak ada yang berdasi. Yang makan kebanyakan buruh dan mungkin para pemilik toko di kawasan 16 Ilir Palembang.

Ada rasa takut, karena ombak sungai Musi yang cukup tinggi sehingga Perahu Jukung bergoyang agak kuat. Namun, ternyata makan disana cukup enak meski untuk duduk harus antri.

Bosku bilang, dia sendiri tidak tahu dengan rumah makan di perahu jukung kecuali restoran terapung di daerah 7 Ulu. Menurutnya, putrinya ingin sekali makan di perahu tersebut sambil menikmati muamsa tepi sungai Musi berbaur dengan masyarakat lain.

Memang, suasana kental sungai Musi sangat menyenangkan. Hanya saja, makannya tak bisa dinikmati karena sesaknya pembeli. Mungkin, pemerintah perlu membangun rumah-rumah makan serupa, apalagi harganya miring beda dengan yang ada di retoran terapung.

Coba deh dinikmati!

2 Tanggapan ke “Makan siang di Perahu “Jukung””

  1. Saya pernah kaya gt tapi waktu ke Banjarmasin…
    Perahu yang sekaligus makan terapung di tengah sungai Barito…
    Menuju perahu tersebut harus naik perahu…trus ditambatkan disampingnya, dan diikat biar perahunya gak hanyut selama ditinggal makan.

  2. iiiiiii, mkn di perahu koq dak ngajak-ngajak sekewet niannnnn
    he….he….he…..

    ***
    Desty : Andai sj tw yg sesungguhnya dirs kan pada saat tu..
    “mengerikan” :)

Komentar telah ditutup